Telah datang dalam shahih Al-Bukhari dari hadits Abu Hurairah Radhiallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam beliau bersabda:
مَا أَنْزَلَ اللَّهُ دَاءً إِلاَّ أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً
“Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit kecuali Allah menurunkan obatnya” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Shahihnya [5678] dari hadits Abu Hurairah Radhiallahu Anhu, Ahmad dalam Al-Musnad [1/377] dari hadits Ibnu Mas’ud Radhiallahu Anhu, At-Tirmidzi (2038) dari hadits Usamah Bin Syarik Radhiallahu Anhu).
Dalam shahih Muslim dari hadits Jabir Bin Abdillah Radhiallahu Anhu beliau berkata: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ فَإِذَا أُصِيبَ دَوَاءُ الدَّاءِ بَرَأَ بِإِذْنِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
“Setiap penyakit memiliki obat, dan jika obat tersebut cocok dengan penyakit nya maka akan sembuh dengan izin Allah.” (Diriwayatkan oleh Muslim dalam shahihnya (2204), Ahmad (3/335).
Dari hadits Usamah Bin Syarik Radhiallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam beliau bersabda:
إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَمْ يُنْزِلْ دَاءً إِلاَّ أَنْزَلَ لَهُ شِفَاء
“Sesungguhnya Allah Azza Wajalla Tidaklah menurunkan penyakit kecuali Allah menurunkan obatnya.” (Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnad-nya (4/278) dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani Rahimahullah dalam Ash-Shahihah (451) dengan lafazh :”Tidaklah Allah menurunkan penyakit” dari hadits Ibnu Mas’ud Radhiallahu Anhu. Dan dalam satu lafazh:
إِنَّ اللَّهَ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلاَّ وَضَعَ لَهُ شِفَاءً أَوْ قَالَ دَوَاءً إِلاَّ دَاءً وَاحِدًا قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا هُوَ قَالَ الْهَرَم ُ
“Tidaklah Allah meletakkan penyakit kecuali Allah juga meletakkan penyembuhnya atau obatnya kecuali satu penyakit. Mereka (para sahabat) bertanya: “Apakah itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “usia tua” (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi [2038], Ibnu Majah semakna dengannya [3436], dan haditsnya di sebutkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Ibnu Majah [2772].
Obat Ketidaktahuan Adalah Bertanya
Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam menjadikan kebodohan adalah sebuah penyakit dan menjadikan obatnya adalah bertanya kepada para ulama.
Al-Imam Abu Daud Rahimahullah meriwayatkan dalam Sunannya dari hadits Jabir Bin Abdillah Radhiallahu Anhu beliau berkata:
خَرَجْنَا فِى سَفَرٍ فَأَصَابَ رَجُلاً مِنَّا حَجَرٌ فَشَجَّهُ فِى رَأْسِهِ ثُمَّ احْتَلَمَ فَسَأَلَ أَصْحَابَهُ فَقَالَ هَلْ تَجِدُونَ لِى رُخْصَةً فِى التَّيَمُّمِ فَقَالُوا مَا نَجِدُ لَكَ رُخْصَةً وَأَنْتَ تَقْدِرُ عَلَى الْمَاءِ فَاغْتَسَلَ فَمَاتَ فَلَمَّا قَدِمْنَا عَلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أُخْبِرَ بِذَلِكَ فَقَالَ « قَتَلُوهُ قَتَلَهُمُ اللَّهُ أَلاَّ سَأَلُوا إِذْ لَمْ يَعْلَمُوا فَإِنَّمَا شِفَاءُ الْعِىِّ السُّؤَالُ إِنَّمَا كَانَ يَكْفِيهِ أَنْ يَتَيَمَّمَ وَيَعْصِرَ . أَوْ « يَعْصِبَ ». شَكَّ مُوسَى « عَلَى جُرْحِهِ خِرْقَةً ثُمَّ يَمْسَحَ عَلَيْهَا وَيَغْسِلَ سَائِرَ جَسَدِهِ
“Kami keluar dalam suatu perjalanan, lalu salah seorang dari kami terkena batu yang melukai kepalanya, kemudian dia bermimpi basah. Maka diapun bertanya kepada teman-temannya: “Apakah kalian mendapatkan keringanan bagiku untuk bertayammum” Mereka menjawab: “Kami tidak mendapatkan keringanan untukmu sedangkan engkau mampu menggunakan air” Maka diapun mandi dan mati. Maka ketika kami tiba kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, beliau telah dikabarkan hal tersebut, maka beliau berkata: “Mereka telah membunuhnya, semoga Allah membunuh mereka semua, mengapakah mereka tidak bertanya jika mereka tidak tahu, karena obat dari ketidaktahuan adalah dengan cara bertanya. Sesungguhnya cukuplah baginya untuk bertayammum dan melindungi atau membalut –Musa (salah seorang perawi ragu manakah diantara kedua lafazh tersebut yang diucapkan oleh Nabi- lukanya dengan sehelai kain kemudian dia mengusap di atas kain tersebut dan mencuci seluruh badannya.” (Diriwayatkan oleh Abu Daud dalam Sunannya [336], dan Ibnu Majah semakna dengannya [572], dan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah berkata: “Hadits hasan tanpa balaghahnya ‘Atha’). Maka Allah mengabarkan kebodohan sebagai sebuah penyakit dan obatnya adalah bertanya. Wallahu A’lam.
(Diterjemahkan oleh Abu Athiyyah As-Salafy dari kitab Al-Jawabul Kafi karya Al-Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah cet.Darul Kutub hal.5-6 dengan sedikit perubahan.)








